YAYASAN ASY SYAHIDAH TAUHID "RUMAH SINGGAH - TAHFIDZUL QUR'AN" , Bank Sumut Cab. Tembung Rek. 109.02.04.014299-9 an. Yayasan As Syahidah Tauhid

AKTE NOTARIS : NO. 25 TANGGAL 30 JUNI 2008,NIDA HUSNA SH. NSM : 4 1 2 1 2 1 0 1 7 5 0 1, NPWP : 31.320.826.6-125.000
KONFIRMASI SEDEKAH SMS 087766100854(Konfirmasi Anda Sangat Kami Butuhkan)

Belajar Al Qur'an OnLine

Senin, 02 Mei 2011

ULAMA PEWARIS PARA NABI dan ULAMA PALSU




Alquran menyebutkan Ulama ada 2 x. Pertama: Di dalam surah Fathir ayat 28 : Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambanNya hanyalah ulama". Ayat ini berbicara dalam konteks ajakan, untuk mempelajari, memperhatikan turunnya hujan dari langit beraneka ragamnya buah-buahan, gunung-gunung dan fenomena alam yang menjadi ayat-ayat Kauniah. Orang-orang yang memiliki pengetahuan di bidang itu adalah para ulama-ulama yang takut kepada Allah Swt.
Yang kedua : Di dalam surah as-Syu'ara ayat 197 : "Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?". Ayat ini berbicara dalam konteks turunnya Alquran, yang dibawa oleh Jibril, yang disampaikan kepada Nabi MUHAMMAD Saw, dan kebenarannya diakui oleh ulama Bani Israil.
Berdasarkan 2 ayat di atas dapat disimpulkan bahwa para ulama ialah orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas mencakup ayat-ayat Kauniah (fenomena alam) dan ayat Quraniah.
Bila kita telusuri, kata ulama berasal dari ilmu, dan kata ilmu dan yang sejalan dengan makna ilmu berulang-ulang di dalam Alquran lebih 800 kali, ternyata ilmu yang terpuji di sisi Allah Swt. adalah ilmu yang dibarengi rasa Khasyyah (takut) kepada Allah Swt. dan tunduk kepada yang memberikan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Sejalan dengan ayat-ayat Alquran, Hadits-hadits Nabi Saw. banyak mereka orang yang bertambah ilmu tetapi tidak bertambah hidayah dan rasa takut kepada Allah.
Ulama-ulama yang memiliki rasa Khasyyah (takut) kepada Allah Swt. mereka itulah pewaris Nabi sekaligus sebagai benang merah antara cendikiawan dan ulama.
Di dalam kitab AUNUL MA'BUD syarah SUNAN ABI DAUD, Juz 6 : 473. dijelaskan: "Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris Nabi-nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham dan mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa-siapa yang mengambilnya berarti dia telah mengambil bahagian yang sempurna". Hadits ini shahih, dan Imam Turmuzi, Ibnu Majah juga meriwayatkan Hadits tersebut.
Sekalipun Hadits di atas dimulai Idhtirab (kesimpangsiuran perawinya) oleh sebagian ulama Hadits, tetapi maknanya diperkuat oleh Alquran surah Fathir ayat 32 : "Kemudian Kami wariskan Alkitab kepada yang Kami pilih dari hamba-hamba Kami".
Ciri-ciri Pewaris Nabi
Bila kita telusuri di dalam Alquran akan kita jumpai beberapa tugas para Nabi, di antaranya : 1. Menyampaikan : "Wahai Rasul sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu (surah al-Maidah ayat 67)". 2. Menjalankan isi kandungan ayat-ayat Allah : "Dan Kami turunkan Alkitab kepadamu (surah an-Nahl ayat 44)". 3. Memutuskan atau menyelesaikan persoalan yang diperselisihkan.
Dan Allah turunkan bersama mereka Alkitab dengan benar agar dapat memutuskan perkara yang diperselisihkan (al-Baqarah ayat 213)". 4. Menjadi contoh dan ikutan bagi umatnya: "Sesungguhnya engkau berakhlak yang agung (al-Qalam ayat 4)". 5. Membimbing umat ke jalan yang benar : "Sesungguhnya engkau pembimbing ke jalan yang lurus (Azzukhruf ayat 52)".
Lima tugas pokok di atas diwariskan kepada para ulama, sungguh ini bukan tugas yang ringan, sekalipun ulama itu pewaris Nabi, tetapi mereka tidak memiliki keistimewaan seperti yang dimiliki oleh para Nabi, karena para ulama tidak luput dari kekeliruan dalam menyampaikan dan memaparkan ayat-ayat Allah, dan pada gilirannya akan timbul perbedaan pendapat dan melahirkan mazhab.
Ulama Palsu
Imam Ghazali membagi ulama kepada dua macam. Pertama Ulama Akhirat kedua Ulama Dunia (Ulama al-Su'). Ciri Ulama Al-su' ini ialah Hubbu Riasah (ambisi kepemimpinan), dan suka cari muka dengan penguasa.
Kita boleh saja tidak sependapat dengan Hujjatul Islam, Imam Ghazali tersebut. Karena pendapt itu sudah tidak zamannya lagi, diduga maksud beliau adalh sikap hati-hati perlu sekali terhadap penguasa-penguasa.
Kriteria Ulama Palsu
1. Suka popularitas, ingin dikenal adalah merupakan penyakit yang berbahaya bagi ulama. Di dalam Hadits Nabi Saw. bersabda : Allah menyukai orang yang ATQIYA' (selalu memelihara diri) dan AKHFIYA' orang yang tidak suka popularitas). Biasanya orang yang suka popularitas selalu memaksamaksakan diri, pandainya Cuma menapilkan zubah dan jenggotnya, selalu menampakkan kekhusu'an, menyukai kata-kata pujian dan sanjungan.
Sangat senang bila namanya disebut-sebut, bila dia tidak hadir di suatu majlis, orang-orang akan kacarian, bahkan bila dikatakan bangsa ini terpelihara hanya karena ulama, dia cepat percaya.
2. Musuh utamanya adalah orang yang tidak mengakui jati dirinya sebagai ulama. Dia tersinggung kalau orang-orang tidak mencium tangannya, dia merasa terhina kalau tidak berada di barisan depan bila ada upacara-upacara keagamaan.
3. Tidak mau menerima kritikan atau koreksi dari orang lain, apalagi yang mengkritiknya tidak setara dengannya, ini dianggap tidak sopan dan tidak santun kepada ulama.
4. Bila dominta untuk menjawab pertanyaan atau persoalan, dia pasti menjawab, agar kemuliaannya tidak tergores, sekalipun jawaban-jawabannya sangat dipaksakan dan malu mengutip pendapt orang lain. Dan yang paling bahayanya mengatakan sesuatu sebagai hadits Nabi, padahal bukan Hadits. Apa saja persoalan, dia tetap menjawab agar tidak dikatakan dia tidak tau.
5. Merasa shaleh sendiri, orang lain tidak shaleh. Allah Swt berfirman dalam surah an-Nisa' ayat 49 : "Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih ? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya".
6. Jika disebut namanya tanpa gelar dan penghargaan, dia menganggap suatu kesalahan yang fatal.


Kesimpulan :
Khasyyah (rasa takut) dan Istislam (tunduk) kepada Allah adalah pembeda antara ulama pewaris Nabi dan ulama palsu juga cendikiawan.
Pada zaman sekarang ini, ulama pewaris Nabi semakin sulit didapati. Krisis ulama tersebut menurut penulis disebabkan karena kurangnya peran agama di berbagai aspek kehidupan, dan lebih dari itu tugas yang diwariskan kepada ulama pewaris Nabi itu cukup berat dan kedatangannya ditunggu-tunggu oleh umat, dan kita yakin dengan janji Nabi Muhammad Saw. bahwa Allah Swt. akan mengutus setiap seratus tahun seorang MUJADDID (pembaharu) untuk agama ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

kami akan menghapus komentar yang berkata kasar, melanggar sara,pornografi,dll