YAYASAN ASY SYAHIDAH TAUHID "RUMAH SINGGAH - TAHFIDZUL QUR'AN" , Bank Sumut Cab. Tembung Rek. 109.02.04.014299-9 an. Yayasan As Syahidah Tauhid

AKTE NOTARIS : NO. 25 TANGGAL 30 JUNI 2008,NIDA HUSNA SH. NSM : 4 1 2 1 2 1 0 1 7 5 0 1, NPWP : 31.320.826.6-125.000
KONFIRMASI SEDEKAH SMS 087766100854(Konfirmasi Anda Sangat Kami Butuhkan)

Belajar Al Qur'an OnLine

Kamis, 05 Mei 2011

MI'RAJ KECIL

Siapakah yang memperjalankanmu, Nabi, di malam hening? Di saat perkabungan atas wafatnya istrimu Khadijah masih bersisa di bilik hati, 'seseorang' membangunkanmu dari kelelapan ketika bermalam di rumah sepupumu Hindun. Seseorang yang dimaksud, seperti kisah Dermenghem yang dikutip Dr Haekal (Sejarah Hidup Muhammad), tak lain Jibril yang membawa hewan ajaib buraq dan memerintahkanmu untuk menungganginya. Maka perjalanan malam pun berlangsung.

Di tengah malam yang letih sehingga membisu, engkau memulai perjalanan malam: singgah di Gunung Sinai tempat Musa sempat bicara dengan Allah, shalat bersama Ibrahim, Musa dan Isa di puing puing kuil Ismail di Bait'l-Maqdis. Lalu perjalanan melangit dimulai: di langit pertama, engkau bersua dengan Adam dan menjura hormat; di langit keenam engkau bersua dengan Nuh, Harun, Musa, Ibrahim, Daud, Sulaiman, Idris, Yahya, dan Isa.


Setelah menyaksikan fenomena kegaiban yang merupakan bentuk kemahakuasaan-Nya, engkau membubung ke langit ke-tujuh, tempat orang orang takwa dan adil maupun malaikat yang lebih besar dari bumi tetapi tetap bertasbih pada-Nya.

Engkau pun tiba di Siradt'l-Muntaha yang berada di sisi kanan 'Arsy. Lalu dengan kecepatan cahaya engkau melangkahi wilayah bercahaya, di mana langit dan bumi menyatu, tabir tabir keindahan, kesempurnaan, dan rahasia tersingkap. Hai Nabi, engkaupun telah berhadapan dengan Sang Kekasih, di 'Arsy yang selama ini tak luput dari ingatanmu.

Siapakah yang memperjalankanmu di keheningan malam, Nabi? Dia, Dialah Sang Kekasih, yang lama engkau rindukan; yang akhirnya mengabulkan untuk bersua denganmu, selagi hayat dikandung badan. Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu alam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa (QS, 17:1).

Pertemuanmu itu dititipi amanat agar umatmu shalat (semula 50 kali sehari-semalam, lalu mengikuti saran Ibrahim, engkau menawar hingga terakhir ketetapannya ialah 5 kali sehari-semalam. Betapa proses tawar menawar ini, menunjukkan kesungguhanmu untuk mendahulukan kepentingan umatmu).

Adakah perjalananmu di malam hari hanya untuk menerima perintah shalat? Sebagian, mungkin, menerjemahkan demikian. Tapi, Nabi, mi'rajmu sejatinya merupakan penyempurnaan kemanusiaan. Betapa manusia dalam kehidupannya perlu menjejaki setiap peningkatan maqam kebajikan. Dengan demikian, kehidupan menjadi sekuen-sekuen kontemplasi, untuk dalam mengemban amanah Allah sebagai wali di muka bumi.

Mi'rajmu, ya Nabi, seperti disimpulkan Haekal yaitu penyatuan alam semesta pada dirimu untuk mencapai ketinggian dan keagungan. Mi'rajmu, ya Rasul, pupusnya batas ruang dan waktu. Semuanya, sejak awal yang azali hingga akhir zaman, menyatu di jiwamu. Dengan karunia Allah, demikian Haekal menyebutkan, engkau mencapai kesempurnaan dengan jalan kebaikan dan keindahan dan kebenaran, dalam mengatasi dan mengalahkan kejahatan dan kebatilan.

Ya Nabi, umat-umatmu, sebagai pejalan ruhani mencoba mendapatkan mi'rajmu melalui suluk. Di balik pembatas tirai putih, mereka bersama zikir dan ridha-Nya, melangkahi hijab. Di tengah kesunyian sang waktu, mereka melakukan perjalanan melangit, pengembaraan ruhani: menyeruput lautan kemahaindahan-Nya, menyaksikan kebiruan bercahaya, dan seperti ikan menghirup partikel-partikel energi-Nya yang laiknya gelembung-gelembung transparan bercahaya.

Tapi, para pejalan ruhani tersebut, sungguh berbeda denganmu. Mereka, para pejalan ruhani, sekadar mengurus kebersihan taman hati sendiri. Dengan demikian, di saat mereka tiba di telaga kemahaindahan-Nya berlama-lama menikmati sendirian keindahan mi'raj-nya enggan kembali turun. Engkau Nabi, pemimpin umat, sehingga setelah mengalami 'pengalaman spritual' di ketinggian tak terhingga, turun untuk kembali bersama umat yang engkau cintai.

Pengalaman mi'rajmu yang dipetik dalam perjalanan malam engkau bagikan bagi keselamatan umat yang dipimpin. Engkaulah pemimpin yang mengutamakan umat dibandingkan diri sendiri (bahkan, saat sakratulmaut, engkau masih menyebut-nyebut umatmu).

Adakah perjalanan malammu masih bersisa bagi umatmu di abad ini? Setelah abad menjadi jarak, umatmu dengan budaya instannya, justru merasa lebih gampang memperingati perjalanan malammu dengan prosesi perayaan tanpa makna. Perjalanan malammu yang kaya makna mengalami pendangkalan.

Hai Nabi, perjalanan malammu, seperti yang dimaknai sahabatku Ikhwanul Kiram, selaiknya menjadi pemicu umatmu yang kebanyakan sebagai bentuk kontemplasi dan perenungan demi mencapai kesempurnaan akhlak untuk menirumu. Allah pun sesungguhnya telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk merenung (lihat QS 3:190-191). Tapi, sebagian besar umatku kini, enggan merenung. Ibadah sekadar ritual tanpa ruh. Kehidupan modern yang bergegas, menyebabkan mereka enggan kehilangan waktu, melakukan 'miraj kecil-kecilan'. Bahkan, mereka telah tak sudi mendengar nurani, ataukah karena nuraninya telah kehilangan suara Ilahiyah?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

kami akan menghapus komentar yang berkata kasar, melanggar sara,pornografi,dll