YAYASAN ASY SYAHIDAH TAUHID "RUMAH SINGGAH - TAHFIDZUL QUR'AN" , Bank Sumut Cab. Tembung Rek. 109.02.04.014299-9 an. Yayasan As Syahidah Tauhid

AKTE NOTARIS : NO. 25 TANGGAL 30 JUNI 2008,NIDA HUSNA SH. NSM : 4 1 2 1 2 1 0 1 7 5 0 1, NPWP : 31.320.826.6-125.000
Computer Tips Download
KONFIRMASI SEDEKAH SMS 087766100854(Konfirmasi Anda Sangat Kami Butuhkan)

Belajar Al Qur'an OnLine

Tampilkan postingan dengan label rahasia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rahasia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Mei 2011

RAHASIA YANG TERLUPAKAN

Bahwasanya keyakinan kita kepada Tuhan, sejauh mana pengenalan kita akan sifat sifat Tuhan, sehingga kecenderungan hati itulah yang akan menjadikan sangka kita kepada segala sesuatu nya. Pertama orang yang mempunyai kecenderungan hati sedemikian rupa hingga mencapai ketulusan, dimana tak ada lagi sesuatu yang ghaib bagi nya sehingga benar benar dapat menjadi hadir dengan jelas di depan penglihatan mereka karena keada'an telah tersingkapnya tabir sehingga mampu mencapai pandangan langsung ( Al Kasyf wal 'Iyaan ) yang mana pada tahap ini telah di masuki oleh para nabi dan pewaris mereka yang sempurna ( Ash Shiddiqun ). Seperti dalam isyarat firman Tuhan yang berbunyi :


" Ketahuilah sesungguhnya wali wali Allah itu tidak merasa takut dan tidak merasa duka cita. Yaitu mereka beriman dan taqwa kepada Allah. Untuk mereka ada khabar gembira untuk hidup di dunia dan di akhirat. Tiada lah pernah bertukar kalimah kalimah Allah. Itulah dia kemenangan yang besar " ( Q. S. 10 Yunus 62 - 64 ).

Sesungguh nya pada tahap ini telah mereka capai dengan bimbingan rahasia illahi karena adanya gerak ikhtiar dan tarikan Robbani, seperti firman Tuhan




" Barangsiapa yang memusuhi kekasih Ku, Aku telah mengumumkan perang padanya. Tidak ada cara ber taqarrub seorang hamba kepada Ku yang lebih kusukai melainkan melaksanakan kewajiban kewajiban yang telah Ku fardhukan kepadanya. Namun senantiasa hamba Ku itu berusaha mendekatkan diri kepada Ku dengan melakukan hal hal yang sunnah, sehingga Aku pun mencintai. Apabila ia telah Ku cintai, Aku menjadi alat pendengarnya yang dengannya ia mendengar, alat penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memukul keras dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia memohon kepada Ku sungguh akan Ku kurniai dirinya dan jika ia memohon perlindungan Ku, Aku akan melindunginya. Dan tak penah Aku ragu ragu pada sesuatu di sa'at Aku akan melakukannya seperti ragu Ku untuk mengambil jiwa Orang Mu'min yang enggan mati sedang Aku tidak suka mengganggunya "

Kemudian yang ke dua ada pula orang yang mempunyai kecenderungan hati yang mana sesuatu yang ghaib menjadi seakan akan dengan jelasnya di hadapan penglihatan sehingga tumbuh lah keyakinan yang sedemikian rupa sehingga mampu menguasai hati secara penuh sehingga tidak mungkin terjadi yang berlawanan dengannya, walaupun bahkan tidak dapat dibayangkan wujudnya apalagi kemungkinan terjadinya. Inilah golongan orang yang di dekatkan ( Muqarrobin )

Firman Allah ( Q. S. At Taghabun : 11 )

" Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan menunjuki hatinya ‘

dan juga dalam Q. S 2 Al Baqarah 25

" Sampaikanlah khabar gembira kepada orang orang yang beriman dan beramal shalíh ( yang telah mengerjakan perbuatan yang baik ) sesungguhnya untuk mereka ada taman ( surga ) yang mengalir sungai sungai di dalamnya. Setiap mereka beroleh pemberian di dalam surga dari semacam buah buahan, mereka mengatakan " inilah pemberian yang telah kita terka dahulu " (bahwa pemberian itu sesuai dengan apa yang telah dijanjikan dahulu lepada mereka di dunia ) dan kepada mereka diberikan pemberian yang serupa. Dan untuk mereka di dalam surga ada jodoh yang bersih suci dan mereka hidup kekal didalamnya "

Dan yang terakhir ádalah orang yang mempunyai kecenderungan hati dengan kepercaya'an yang pasti dan kuat namun masih bisa disertai kemungkinan timbulnya keraguan dan guncangan apabila datang hal yang dapat mempengaruhinya. Keada'an seperti ini biasa disebut ke Imanan. Inilah golongan orang Abrar

Seperti yang telah di isyarat kan Allah dalam firman Nya


" Dan di antara manusia ada yang berkata " kami beriman kepada Allah ". Tatapi apabila mendapat gangguan dan rintangan dalam melaksanakan perintah Allah, dia menganggap gangguan ( fitnah ) itu seakan akan siksa'an dari Allah dan jika datang pertolongan dari Allah, mereka pasti berkata " Susungguhnya kami beserta kalian ( kaum mukmin )". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada manusia ? dan sesungguhnya Allah mengetahui orang orang yang beriman dan benar benar mengetahui orang orang yang munafiq " ( Q. S. 29 Al Ankabut : 10 - 11 )


Ketahui lah bahwa sesungguh nya Maha Suci Allah dari segala bentuk dan sifat karena Dzat Nya yang Laisa Kamislihi, maka tak pantas Tuhan yang Maha, memiliki kesama'an dengan Makhluk yang baharu dan binasa. Tetapi karena akal kita menuntut menyembah Tuhan yang di atas, maka menjadikan kita mengharus kan Tuhan memiliki sifat sifat yang berlawanan dengan kita dengan cara memandang ke dhaif an setiap makhluk. Dan karena Kasih Allah Ta'ala tadi lah yang memberikan ilmu rahasia kepada para nabi dan pewaris mereka yang sempurna untuk mengenal kan rahasia illahiah untuk menambahkan keyakinan dan ke imanan kepada setiap hamba. Maka oleh kita menjadikan Tuhan itu yang wajib adanya yang mula mula ialah yaitu


WUJUD

Yaitu wajib ada mustahil tiada nyatanya dengan memandang makhluk. Wujud Dzat Allah yaitu tanpa di karena kan dengan suatu karena dan tiada serupa dengan segala sesuatu rupa dan tiada bagai dengan suatu bagai juga, tiada banding dengan suatu banding, tiada bermasa dan bertempat, didalam maupun di luar karena segala sesuatu haqiqat nya di liputi oleh Nya.

Oleh karena itu lah sebenar benarnya Wujud Dzat Allah itu bendahara dari segala sesuatu nya. Dan Ada nya Alam dengan adanya Allah karena Allah tetap lah Wujud meskipun tiada alam ini, sehingga mustahil Allah memerlukan dalil akan keberada'an Nya dengan mengharuskan pandangan adanya alam. Maha Suci Allah dari segala dalil

QIDAM

Yaitu sedia mustahil baharu nyata juga dengan memandang makhluk. Sedia nya Dzat Allah dengan tiada ber awal maupun dengan tiada kesudahan walaupun dengan bermula adanya makhluk, maka wajib lah Allah karena Wujud harus bersifat Qidam

BAQA

Yaitu kekal mustahil berkesudahan atau binasa seperti makhluk. Adapun makna kekal yaitu tidak mendahului makhluk yang dahulu maupun tidak berakhir dengan makhluk yang akan kemudian. Dan sifat Baqa ini menunjukan daripada keharusan sifat Qidam

MUKHALLAFATUHU LIL HAWADITH

Yaitu berbeda mustahil serupa dengan segala makhluk, baik pada Dzat, Sifat maupun Af'al.

Berbeda Dzat yaitu karena perbendahara'an Allah segala sesuatu yang lain, Dan tak ada satupun makhluk yang bukan dari perbendahara'an Nya.

begitupun berbeda Sifat karena bergantung segala sesuatu nya kepada Nya juga berbeda Af'al karena maha suci Dia dari memerlukan sesuatu alat dalam perbuatan Nya.

Pandang pada Dzat Allah bukan kah kita dibawah perintah, pandang pada Sifat Allah ternyata kita di dalam milik, pandang Asma Allah bukan kah kita hamba

dan juga pandang pada Af'al Allah kita adalah terjadi. Oleh karena itu kita tidak mempunyai apa apa melainkan hak Allah SWT semata mata.

QIAMUHU BINAFSIH

Yaitu berdiri sendiri mustahil berhajat pada yang lain, baik pada Dzat, Sifat maupun Af'al.

Berdiri Dzat dengan sendiri karena tiada berkehendak pada mengadakan Nya, berdiri Sifat dengan sendiri juga karena tiada berkehendak pada menjadikan Nya dan bediri Af'al dengan sendiri karena tiada berhajat pada menolong kan Nya. Maka kita pandang pada Wujud yaitu makna Adanya Allah itu tidak ada suatu sebab oleh karena suatu sebab, disinilah dalil yang membuktikan adanya Dia Qiamuhu Binafsih.

Allah ada sendiri karena diri Dzat itu Qadim lagi azali maka hak Qadim lah Baqa, dan Allah tidak mengadakan diri sendiri karena apabila Ia mengadakan diri sendiri maka Ia berhajat pada sesuatu untuk mengadakan Nya dan Dia karena ada sesuatu yang dahulu maka baru membuat dan itu mustahil karena kalau ada permulaan maka batal lah Qidam dan kalau berhajat sesuatu mengadakan Nya maka batallah Mukhlafah dan bila gugur Qiyamuhu maka gugurlah 4 ( empat ) yang diatas.

WAHDNIAT

Yaitu esa mustahil berbilang bilang baik esa pada Dzat, esa pada Sifat maupun esa pada Af'al karena sesungguh nya esa Se Dzat atau ketunggalan Dzat itu tidak bersusun susun, bersuku suku ataupun terbagi bagi karena maha suci Dzat Allah itu tidak lah berbenda atau berbentuk. Sedangkan esa se Sifat yaitu se Qudrat, se Iradat dan se Ilmu dan yang berbilang bilang itu liput daripada Allah dan takluk Nya daripada Nya. Dan esa se Af'al ialah tidak ada sekutu dalam perbuatan Allah selama lamanya karena segala sesuatu tak akan memberi bekas

HAYAT

Yaitu hidup selama lama nya mustahil mati, dan hidup nya Allah tidak dengan roh dan jasad maupun tidak dengan nyawa dan nafas terlebih tidak karena unsur yang empat seperti Api, Angin, Air dan Tanah karena hidup Allah SWT Qadim lagi Azali.

Dan Hayat Allah pasti tak pernah lalai dan ingat karena sesuatu pun, maka wajib lah Ia Hidup karena mustahil dengan Wujud Nya itu yang Baqa ia bisa Binasa

ILMU

Yaitu mengetahui mustahil jahil, yaitu Ilmu Allah tidak dengan karena suatu perantara dan hajat sehingga pasti Ia mengetahui tidak dengan belajar dan di ajar baik dengan mudah maupun susah, karena Tahu Allah itu terbuka dan nyata yang tiada oleh karena mudah dan susah nya sesuatu maka dia Tahu.

QUDRAT

Yaitu berkuasa mustahil lemah, yaitu kuasa Allah mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada dan menjadikan yang ada agar tiada tanpa ada sesuatupun yang dapat mencegah, membatal kan atau melemahkan kuasa Allah. Karena kuasa Allah adalah kuasa yang berdiri bagi Dzat seperti dalam Innallaah ha ghaniyyu 'alal 'aalamiin

IRADAT

Yaitu berkehendak mustahil dipaksa, dan kehendak Nya ialah menjadikan segala sesuatu dengan kehendak tidak dengan lalai, lupa, tabiat ataupun untuk mengambil faedah. Karena Allah lah yang menentukan segala sesuatu


SAMA

Yaitu mendengar mustahil tuli, yaitu tidak dengan telinga ataupun tujuh anggota tubuh, tidak dengan sebab jauh dekat, dilindung atau didinding, karena Allah mendengar Dzat, Sifat, Asma dan Af'al Nya

BASAR

Yaitu melihat mustahil buta, karena melihat Allah tidak dengan melihat biji mata, maka melihat Allah tidak dengan didindingi oleh kantuk, oleh puas dan bosan, benci dan kasih, tidak dengan sebab buruk dan baik, tidak dengan sebab kebajikan dan kejahatan.



KALAM

Yaitu berkata kata mustahil bisu, yaitu berkata kata tidak dengan lidah di mulut, tidak ada huruf dan suara, tidak di dahului dan tidak kemudian tiada tersalah atau terlancar, oleh karena berkata kata Allah itu takluk pada tiga hukum aqal yaitu wajib yaitu tidak ada Tuhan melainkan Dia, mustahil yailtu mustahil Tuhan salah satu daripada tiga dan harus yaitu Allah yang menjadikan kamu dan segala yang kamu perbuat.

KAUNUHU HAYYUN

Yaitu keadaan Allah yang hidup mustahil berkeadaan mati, yaitu melazimkan Hayat. Artinya tidak dikatakan Kaunuhu Hayyun melainkan kemudian mendirikan Hayat itu pada Zat. Hayyun menerangkan atau menjelaskan bahwa Hayat itu sebenarnya ada dan Hayyun adalah saksi adanya Hayat pada Dzat


KAUNUHU 'AALIMAN

Yaitu keadaan Allah yang mengetahui mustahil keadaan Nya yang jahil, yaitu melazimkan Ilmu artinya tidak dikatakan kaunuhu 'Aaliman melainkan kemudian mendirikan Ilmu itu pada Dzat


KAUNUHU QAADIRAN

Yaitu keadaan Allah yang berkuasa mustahil keadaan Nya yang lemah, artinya Kaunuhu Qaadiran melazimkan Qudrat karena tidak dikatakan Kaunuhu Qaadiran melainkan kemudian mendirikan Qudrat itu pada Dzat


KAUNUHU MURIDAN

Yaitu keadaan Allah yang berkehendak mustahil keadaan Nya yang dipaksa, yaitu melazimkan Iradat artinya tidak dikatakan Kaunuhu Muridan melainkan kemudian mendirikan Iradat itu pada Dzat


KAUNUHU SAMII'AN

Yaitu keadaan yang mendengar mustahil keadaan Nya yang tuli, artinya Kaunuhu Samii'an melazimkan Sama karena tidak dikatakan Kaunuhu Samii'an melainkan kemudian mendirikan Sama itu pada Dzat


KAUNUHU BASHIRAN

Yaitu keadaan yang melihat mustahil keadaan Nya yang buta, yaitu melazimkan Bashar, artinya tidak dikatakan Kaunuhu Bashiiran melainkan kemudian mendirikan Bashar itu pada Dzat



KAUNUHU MUTAKALLIMAN

Yaitu keadaan Allah yang berkata kata mustahil keadaan Nya yang bisu, yaitu melazimkan Kalam artinya tidak dikatakan Kaunuhu Mutakalliman melainkan kemudian mendirikan Kalam itu pada Dzat


Dan dalil bagi ke tujuh kaunuhu itu adalah sekalian makhluk ini

Kaunuhu adalah untuk menjelaskan sifat yang tujuh dan inilah yang dinamakan hal sifat Maanawiah

Oleh karena itu didalam sifat Maanawiah itu terdapat Hal Kekayaan, Hal Kebesaran, Hal Ketinggian dan juga Hal Keelokan yang semuanya keluar daripada sifat Maanawiah


Dan juga menghadap wajah Allah itu dengan martabat Afaal, Asma, Sifat dan Dzat, karena martabat Allah itu juga empat yaitu Afal dimana pada pihak perbuatan Nya, Asma dimana pada pihak Nama Nya, Sifat dimana pada pihak Sifat Nya dan Dzat dimana pada pihak Dzat Nya. Inilah yang dikatakan liput atau Se Dzat, Se Sifat, Se Asma dan Se Afal, maka nyatalah kata LAA itu pada Dzat, kata ILAAHA itu pada Sifat, kata ILLAA itu pada Asma dan ALLAH itu pada Afaal

Dan bila keluar empat itu, itulah yang dikatakan dengan Syariat yaitu Iman, Tarekat yaitu Islam, Hakikat yaitu Tauhid dan Marifat yaitu Marifat yang mana kesemuanya itu terbit di ISLAM. Pada huruf Alif itu Iman, pada huruf Sin itu Islam, pada huruf Lam itu Tauhid dan pada huruf Mim itu Marifat.

Sifat Dua Puluh ini terbagi menjadi empat bahagian yang tujuannya adalah untuk memasukan ke dalam kalimah Laa Ilaha Illaa Allah


WUJUD 1 SIFAT NAFSI

Nafsi atau nama bagi Dzat maka maujud pada Zihin dalam i'tikad, yaitu majud pada Dzat yang tak nyata pada alam, karena Dzat dan Sifat tak berpisah. Maka Wujud itu terbagi kepada 3 Adam yakni Adam Thabit yaitu Tidak ada permula'an, Adam Lahit yaitu tidak akan binasa dan Adam Mumasalah yaitu tidak ada bandingan selama lamanya.


QIDAM 5 SIFAT SALBIAH

Maka maujud pada khabar, yaitu berkhabar barang yang tidak patut atau layak bagi Dzat yaitu Dzat yang bersifat Qidam menolak pemula'an, Dzat yang bersifat Baqa menolak kesudahan, Dzat yang bersifat Mukhalafatuhu lil Hawadith menolak menyamai segala sesuatu dan Dzat yang bersifat Qiamuhu binafsih menolak berhajat pada Dzat, Sifat, Asma dan Af'al orang lain dan Dzat yang bersifat Wahdaniat menolak berdua, bertiga atau ada yang lain

Dan Qidam 5 ini adalah Sifat Jalalullah.

Sifat martabat Dzat yakni Wujud 1 dan Qidam 5

Sifat martabat Sifat yakni Hayat 7

Sifat martabat Asma yakni Hayyun


HAYAT 7 SIFAT MA'ANI

Maujud pada zihin yaitu maujud pada Dzat yakni tak nyata pada alam dan maujud pada kharij yaitu memberi bekas pada sekalian alam yakni nyata pada alam karena sifat yang berdiri pada Dzat lah yang menjadikan alam ini.

Dalam sifat Maani ini takluk 6 sifat saja tanpa sifat Hayat yakni pertama Qudrat dan Iradat yaitu takluk pada sekalian mumkin, dan mumkin ini terbagi menjadi 4 bagian yang mana termasuk di dalam kalimah Laa yaitu Mumkin Maujud dikatakan Takluk Ma'yah yakni menyertai, dalam kalimah Ilaaha yaitu Mumkin Adam Ba'dal Maujud dikatakan Takluk Taksir yakni hari yang akan telah lalu, dalam kalimah Illaa yaitu Mumkin Sayyujad dikatakan Takluk Bil Quah yakni hari yang akan datang hingga Qiamat dan dalam kalimah Allah yaitu Ilmullah innahu lam yujat dikatakan Takluk Hikmiah yakni akan datang masuk syurga dan neraka. Kedua Sama dan Basar yaitu takluk sekalian maujudat dan yang ketiga Ilmu dan Kalam yaitu takluk pada hukum aqal yang 3.

Oleh karena itu Allah menjadikan makhluk ini dengan 4 sifat Nya yaitu Hayat, Ilmu, Qudrat dan Iradat dan menerima sekalian kejadian ini dengan Sama, Basar dan Kalam.

Yang perlu di ingat bahwa sifat Nafsi maujud pada zihin dan sifat Maanawiah maujud pada zihin juga tetapi keduanya tetap berbeda karena sifat Nafsi halnya tidak ada karena dengan suatu karena sementara sifat Ma'anawiah halnya ada karena dengan suatu karena, sebab kenyataan bagi sifat Ma'anawiah tak ada.
»»  READMORE...

Jumat, 06 Mei 2011

RAHASIA MA'RIFAT bagian 5

Apabila Allah SWT, membiarkan seorang hamba masih terbelenggu dengan nafsunya dan terikat dengan kemauannya sendiri, maka selamanya ia tidak akan bisa sampai kehadhirat Allah SWT. Tetapi apabila menghendaki hamba-Nya memberikan karunia untuk bisa sampai sampai kehadhirat-Nya, maka ia akan menanggalkan ketergantungan dan keterkaitan hamba itu dengan dirinya sendiri dan dengan urusan keduniaanya. Lalu Allah memunculkan dan menampakkan sifat-sifat kesucian yang menanggalkan sifat-sifat kemanusiaan yang rendah pada hamba itu dan memberinya anugerah untuk bisa sampai kehadhirat-Nya. Bila hal demikian terjadi pada seorang hamba, maka itu sebagai tanda dari sebuah anugerah besar baginya, yaitu memperoleh kecintaan Allah SWT. Sebagaimana diisyaratkan dalam sabda Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis qudsi Allah SWT berfirman:

“ Apabila Aku ( Allah )mencintai seorang hamba, maka pendengarannya adalah pendengaran untuk-Ku, penglihatannya adalah penglihatan-Ku, tangannya ( kekuasaanya ) adalah kekuasaan-Ku. Perjalanan kakinya adalah perjalanan untuk-Ku.”

»»  READMORE...

RAHASIA MA'RIFAT bagian 4

Sangat sulit menjelaskan hakikat dan makrifat kepada orang-orang yang mempelajari agama hanya pada tataran Syariat saja, menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist akan tetapi tidak memiliki ruh dari pada Al-Qur’an itu sendiri. Padahal hakikat dari Al-Qur’an itu adalah Nur Allah yang tidak berhuruf dan tidak bersuara, dengan Nur itulah Rasulullah SAW memperoleh pengetahuan yang luar biasa dari Allah SWT. Hapalan tetap lah hapalan dan itu tersimpan di otak yang dimensinya rendah tidak adakan mampu menjangkau hakikat Allah, otak itu baharu sedangkan Allah itu adalah Qadim sudah pasti Baharu tidak akan sampai kepada Qadim. Kalau anda cuma belajar dari dalil dan mengharapkan bisa sampai kehadirat Allah dengan dalil yang anda miliki maka saya memberikan garansi kepada anda: PASTI anda tidak akan sampai kehadirat-Nya.

Ketika anda tidak sampai kehadirat-Nya sudah pasti anda sangat heran dengan ucapan orang-orang yang sudah bermakrifat, bisa berjumpa dengan Malaikat, berjumpa dengan Rasulullah SAW dan melihat Allah SWT, dan anda menganggap itu sebuah kebohongan dan sudah pasti anda mengumpulkan lagi puluhan bahkan ratusan dalil untuk membantah ucapan para ahli makrifat tersebut dengan dalil yang menurut anda sudah benar, padahal kadangkala dalil yang anda berikan justru sangat mendukung ucapan para Ahli Makrifat cuma sayangnya matahati anda dibutakan oleh hawa nafsu, dalam Al-Qur’an disebuat Qatamallahu ‘ala Qukubihum (Tertutup mata hati mereka) itulah hijab yang menghalangi anda menuju Tuhan.

Rasulullah SAW menggambarkan Ilmu hakikat dan makrifat itu sebagai “Haiatul Maknun” artinya “Perhiasan yang sangat indah”. Sebagaimana hadist yang dibawakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya sebagian ilmu itu ada yang diumpamakan seperti perhiasan yang indah dan selalu tersimpan yang tidak ada seoranpun mengetahui kecuali para Ulama Allah. Ketika mereka menerangkannya maka tidak ada yang mengingkari kecuali orang-orang yang biasa lupa (tidak berzikir kepada Allah)” (H.R. Abu Abdir Rahman As-Salamy)

Di dalam hadist ini jelas ditegaskan menurut kata Nabi bahwa ada sebagian ilmu yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali para Ulama Allah yakni Ulama yang selalu Zikir kepada Allah dengan segala konsekwensinya. Ilmu tersebut sangat indah laksana perhiasan dan tersimpan rapi yakni ilmu Thariqat yang didalamnya terdapat amalan-amalan seperti Ilmu Latahif dan lain-lain.

Masih ingat kita cerita nabi Musa dengan nabi Khidir yang pada akhir perjumpaan mereka membangun sebuah rumah untuk anak yatim piatu untuk menjaga harta berupa emas yang tersimpan dalam rumah, kalau rumah tersebut dibiarkan ambruk maka emasnya akan dicuri oleh perampok, harta tersebut tidak lain adalah ilmu hakikat dan makrifat yang sangat tinggi nilainya dan rumah yang dimaksud adalah ilmu syariat yang harus tetap dijaga untuk membentengi agar tidak jatuh ketangan yang tidak berhak.

Semakin tegas lagi pengertian di atas dengan adanya hadist nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah sebagai berikut :

“Aku telah hafal dari Rasulillah dua macam ilmu, pertama ialah ilmu yang aku dianjurkan untuk menyebarluaskan kepada sekalian manusia yaitu Ilmu Syariat. Dan yang kedua ialah ilmu yang aku tidak diperintahkan untuk menyebarluaskan kepada manusia yaitu Ilmu yang seperti “Hai’atil Maknun”. Maka apabila ilmu ini aku sebarluaskan niscaya engkau sekalian memotong leherku (engkau menghalalkan darahku). (HR. Thabrani)

Hadist di atas sangat jelas jadi tidak perlu diuraikan lagi, dengan demikian barulah kita sadar kenapa banyak orang yang tidak senang dengan Ilmu Thariqat? Karena ilmu itu memang amat rahasia, sahabat nabi saja tidak diizinkan untuk disampaikan secara umum, karena ilmu itu harus diturunkan dan mendapat izin dari Nabi, dari nabi izin itu diteruskan kepada Khalifah nya terus kepada para Aulia Allah sampai saat sekarang ini.

Jika ilmu Hai’atil Maknun itu disebarkan kepada orang yang belum berbait zikir atau “disucikan” sebagaimana telah firmankan dalam Al-Qur’an surat Al-‘Ala, orang-orang yang cuma Ahli Syariat semata-mata, maka sudah barang tentu akan timbul anggapan bahwa ilmu jenis kedua ini yakni Ilmu Thariqat, Hakikat dan Ma’rifat adalah Bid’ah dlolalah. Tentang pembelaan dari Ahli Thariqat dapat anda baca disini

Dan mereka ini mempunyai I’tikqat bahwa ilmu yang kedua tersebut jelas diingkari oleh syara’. Padahal tidak demikian, bahwa hakekat ilmu yang kedua itu tadi justru merupakan intisari daripada ilmu yang pertama artinya ilmu Thariqat itu intisari dari Ilmu Syari’at.

Oleh karena itu jika anda ingin mengerti Thariqat, Hakekat dan Ma’rifat secara mendalam maka sebaiknya anda berbai’at saja terlebih dahulu dengan Guru Mursyid (Khalifah) yang ahli dan diberi izin dengan taslim dan tafwidh dan ridho. Jadi tidak cukup hanya melihat tulisan buku-buku lalu mengingkari bahkan mungkin mudah timbul prasangka jelek terhadap ahli thariqat.

Dalam setiap peristiwa yang mewarnai kehidupan ini, seringkali kita tidak mampu atau tidak mau menangkap kehadiran Allah dengan segala sifat-sifatNya. Padahal sifat-sifat Allah sangat terkait erat dengan ayat-ayat kauniyahNya yang terhampar di atas muka bumiNya. Betapa Allah –melalui ayat-ayat kauniyahNya- memang ingin menunjukkan keMaha KuasaanNya dan keMaha BesaranNya agar hamba-hambaNya senantiasa mawas diri, waspada dan berhati-hati dalam bertindak dan berprilaku agar tidak mengundang turunnya sifat JalilahNya yang tidak akan mampu dibendung, apalagi dilawan oleh siapapun, dengan upaya dan sarana kekuatan apapun tanpa terkecuali, karena memang Allahlah satu-satunya pemilik kekuatan dan kekuasaan terhadap seluruh makhlukNya.

Berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al Qur’an secara berurutan, terdapat paling tidak empat ayat yang menyebut sifat-sifat Jamilah dan Jalilah Allah secara berdampingan, yaitu: pertama, surah Al-Ma’idah [5]: 98, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. kedua, akhir surah Al-An’am [6]: 165, “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ketiga, surah Ar-Ra’d [13]: 6, “Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka.Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya”. Dan keempat, surah Al-Hijr [15]: 49-50, “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih”.

Pada masing-masing ayat di atas, Allah menampilkan DiriNya dengan dua sifat yang saling berlawanan; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang yang merupakan esensi dari sifat JamilahNya, namun pada masa yang sama ditegaskan juga bahwa Allah amat keras dan pedih siksaanNya yang merupakan cermin dari sifat JalilahNya. Menurut Ibnu Abbas r.a, seorang tokoh terkemuka tafsir dari kalangan sahabat, ayat-ayat tersebut merupakan ayat Al Qur’an yang sangat diharapkan oleh seluruh hamba Allah s.w.t. (Arja’ Ayatin fi KitabiLlah). Karena –menurut Ibnu Katsir- ayat-ayat ini akan melahirkan dua sikap yang benar secara seimbang dari hamba-hamba Allah yang beriman, yaitu sikap harap terhadap sifat-sifat Jamilah Allah dan sikap cemas serta khawatir akan ditimpa sifat Jalilah Allah (Ar-Raja’ wal Khauf). Sementara Imam Al-Qurthubi memahami ayat tentang sifat-sifat Allah swt semakna dengan hadits Rasulullah s.a.w. yang menegaskan, “Sekiranya seorang mukmin mengetahui apa yang ada di sisi Allah dari ancaman adzabNya, maka tidak ada seorangpun yang sangat berharap akan mendapat surgaNya. Dan sekiranya seorang kafir mengetahui apa yang ada di sisi Allah dari rahmatNya, maka tidak ada seorangpun yang berputus asa dari rahmatNya”. ( HR. Muslim)

Dalam konteks ini, Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, seorang tokoh tafsir berkebangsaan Mesir mengelompokkan sifat-sifat Allah yang banyak disebutkan oleh Al Qur’an kedalam dua kategori, yaitu Sifat-sifat Jamilah dan Sifat-sifat Jalilah. Kedua sifat itu selalu disebutkan secara beriringan dan berdampingan. Tidak disebut sifat-sifat Jamilah Allah, melainkan akan disebut setelahnya sifat-sifat JalilahNya. Begitupula sebaliknya. Dan memang begitulah Sunnatul Qur’an selalu menyebutkan segala sesuatu secara berlawanan; antara surga dan neraka, kelompok yang dzalim dan kelompok yang baik, kebenaran dan kebathilan dan lain sebagainya. Semuanya merupakan sebuah pilihan yang berada di tangan manusia, karena manusia telah dianugerahi oleh Allah kemampuan untuk memilih, tentu dengan konsekuensi dan pertanggung jawaban masing-masing. “Bukankah Kami telah memberikan kepada (manusia) dua buah mata,. lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan; petunjuk dan kesesatan”. (QS. Al-Balad: 8-10)

Sifat Jalilah yang dimaksudkan oleh beliau adalah sifat-sifat yang menunjukkan kekuasaan, kehebatan, cepatnya perhitungan Allah dan kerasnya ancaman serta adzab Allah swt yang akan melahirkan sifat Al-Khauf (rasa takut, khawatir) pada diri hamba-hambaNya. Manakala Sifat Jamilah adalah sifat-sifat yang menampilkan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih, Penyayang, Pengampun, Pemberi Rizki dan sifat-sifat lainnya yang memang sangat dinanti-nantikan kehadirannya oleh setiap hamba Allah swt tanpa terkecuali. Dan jika dibuat perbandingan antara kedua sifat tersebut, maka sifat jamilah Allah jelas lebih banyak dan dominan dibanding sifat jalilahNya.

Pada tataran Implementasinya, pemahaman yang benar terhadap kedua sifat Allah tersebut bisa ditemukan dalam sebuah hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. Anas menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah bertakziah kepada seseorang yang akan meninggal dunia. Ketika Rasulullah bertanya kepada orang itu, “Bagaimana kamu mendapatkan dirimu sekarang?”, ia menjawab, “Aku dalam keadaan harap dan cemas”. Mendengar jawaban laki-laki itu, Rasulullah bersabda, ‘Tidaklah berkumpul dalam diri seseorang dua perasaan ini, melainkan Allah akan memberikan apa yang dia harapkan dan menenangkannya dari apa yang ia cemaskan”. (HR. At Tirmidzi dan Nasa’i).

Sahabat Abdullah bin Umar ra seperti dinukil oleh Ibnu Katsir memberikan kesaksian bahwa orang yang dimaksud oleh ayat-ayat di atas adalah Utsman bin Affan ra. Kesaksian Ibnu Umar tersebut terbukti dari pribadi Utsman bahwa ia termasuk sahabat yang paling banyak bacaan Al Qur’an dan sholat malamnya. Sampai Abu Ubaidah meriwayatkan bahwa Utsman terkadang mengkhatamkan bacaan Al Qur’an dalam satu rakaat dari sholat malamnya. Sungguh satu tingkat kewaspadaan hamba Allah yang tertinggi bahwa ia senantiasa khawatir dan cemas akan murka dan ancaman adzab Allah swt dengan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas pengabdian kepadaNya. Disamping tetap mengharapkan rahmat Allah melalui amal sholehnya.

Betapa peringatan dan cobaan Allah justru datang saat kita lalai, saat kita terpesona dengan tarikan dunia dan saat kita tidak menghiraukan ajaran-ajaranNya, agar kita semakin menyadari akan keberadaan sifat-sifat Allah yang Jalillah maupun yang Jamilah untuk selanjutnya perasaan harap dan cemas itu terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. Boleh jadi saat ini Allah masih berkenan hadir dengan sifat JamilahNya dalam kehidupan kita karena kasih sayangNya yang besar, namun tidak tertutup kemungkinan karena dosa dan kemaksiatan yang selalu mendominasi perilaku kita maka yang akan hadir justru sifat JalilahNya. Na’udzu biLlah. Memang hanya orang-orang yang selalu waspada yang mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Saatnya kita lebih mawas diri dan meningkatkan kewaspadaan dalam segala bentuknya agar terhindar dari sifat Jalilah Allah swt dan senatiasa meraih sifat jamilahNya. Dan itulah tipologi manusia yang dipuji oleh Allah dalam firmanNya yang bermaksud, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia senantiasa cemas dan khawatir akan (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. Az-Zumar [39]: 9)

Semoga kasih sayang Allah yang merupakan cermin dari sifat JamilahNya senantiasa mewarnai kehidupan ini dan menjadikannya sarat dengan kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan lahir dan bathin. Dan pada masa yang sama, Allah berkenan menjauhkan bangsa ini dari sifat JalilahNya yang tidak mungkin dapat dibendung dengan kekuatan apapun karena memang mayoritas umat ini mampu merealisasikan nilai iman dan takwa dalam kehidupan sehari-hari mereka.
»»  READMORE...

RAHASIA MA'RIFAT bagian 1

Rasulullah Saw bersabda:
“Aku datangi pintu surga di hari qiyamat, lalu aku dibukakan. Maka sang penjaga syurga bertanya, “Siapa anda?”

Aku katakan, “Muhammad,”. Lalu dia berkata, “Demi dirimulah aku diperintahkan agar tidak membuka (pintu syurga) bagi siapa pun sebelum dirimu…”

Ahlul Ilmi Billah (para Ulama Billah) telah mengetahui bahwa syurga adalah pintu kebajikan Ilahi yang abadi. Tidak akan dibuka kecuali dibuka oleh Kanjeng Nabi Muhammad saw, dan dialah sang pembuka bagi kebaikan dunia dan akhirat. Mengetahui akan perilakunya merupakan rahasia pengetahuan pada Allah Ta’ala. Siapa yang ingin dibukakan pintu-pintu kebaikan dunia dan akhirat, ia harus menggantung pada nya. Karena disana tersembunyi rahasia ma’rifat.
»»  READMORE...

Senin, 02 Mei 2011

RAHASIA BESAR DIBALIK BERSEDEKAH

DIKUTIP DARI KITAB DURROTUN NASIHIN

Dari Sayyidah Aisyah Ra, Beliau menceritakan tentang pertemuan wanita dengan Nabi Muhammad SAW, yang tangan kanannya dalam keadaan lumpuh. Wanita itu berkata : “Wahai Nabi Allah sudikah kiranya engaku momohon kepada Allah SWT semoga Dia (Allah) menyembuhkan tanganku.
” Nabi bersabda kepadanya : ”Apa yang menyebabkan tanganmu lumpuh?” , wanita itu menceritakan kepada Rasulullah SAW : ”Ya Rasulullah, pada suatu malam aku bermimpi seakan-akan hari kiamat akan tiba, neraka jahanam telah menyala-menyala dan surga telah terbentang dengan indah.
»»  READMORE...