YAYASAN ASY SYAHIDAH TAUHID "RUMAH SINGGAH - TAHFIDZUL QUR'AN" , Bank Sumut Cab. Tembung Rek. 109.02.04.014299-9 an. Yayasan As Syahidah Tauhid

AKTE NOTARIS : NO. 25 TANGGAL 30 JUNI 2008,NIDA HUSNA SH. NSM : 4 1 2 1 2 1 0 1 7 5 0 1, NPWP : 31.320.826.6-125.000
Computer Tips Download
KONFIRMASI SEDEKAH SMS 087766100854(Konfirmasi Anda Sangat Kami Butuhkan)

Belajar Al Qur'an OnLine

Tampilkan postingan dengan label TABDIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TABDIR. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Mei 2011

TADBIR TAK MUNGKIN MENEMBUS TAKDIR

“Mendahulukan segala cita-cita, tak dapat menembus tirai takbir”.

Maksudnya, bahwa segala bentuk usaha dan ikhtiar hamba tak dapat merubah takdir yang telah menjadi ketetapan Q pada skenario yang telah ditulis-Nya.

Tak sedikit mukjizat yang keluar dari para Nabi as., juga banyak karomah serta kejadian yang luar biasa berhamburan dari para Waliyullah, begitu pula ma’unah (keistimewaan) yang mencuat dari yang mendapatkan taburan Rahim-Nya. Namun peristiwa semacam itu tak mampu menyingkap tirai takdir. Bahkan tak ada yang mampu tuk menembus keluar dari ketegaran takdir, walau dengan perbuatan seiring tekad yang membara sekalipun.
Tak sedikit mukjizat yang keluar dari para Nabi as., juga banyak karomah serta kejadian yang luar biasa berhamburan dari para Waliyullah, begitu pula ma’unah (keistimewaan) yang mencuat dari yang mendapatkan taburan Rahim-Nya. Namun peristiwa semacam itu tak mampu menyingkap tirai takdir. Bahkan tak ada yang mampu tuk menembus keluar dari ketegaran takdir, walau dengan perbuatan seiring tekad yang membara sekalipun.

Sebab, semua perbuatan bermuara pada diri-Nya. Termasuk pula keberadaan jagat raya, tak luput sebagai realisasi taqdir azali alias kitab “skenario” yang terletak di Lauhul Mahfudz.

Pada pembahasan ini, tak lepas dari pengertian tekad yang dimaknakan pada kalimat “himmah”. Maka himmah dapat dipahamkan pada hentakan nafsu untuk berbuat dalam satu wujud dengan izin Q.

Oleh karena itu, kaum Sufi memahami himmah diidentikkan dengan persepsi martabat orang yang berhimmah. Misalnya, bagi para Waliyullah kuat keyakinannya, orang yang bertapa kuat nafsunya, para materialis berdampak jahat perbuatannya dan para penyihir lihai dalam bertipudaya. Keyakinan para Aulia’ mengenai takdir, tak bergeming dengan sesuatu apapun, sebab mereka telah mengerti dan memahami bahwa hakekat kehidupan yang terpampang di alam raya ini tak lepas dari alur skenario Q, juga tak bergeser karena sesuatu yang datang kepada-Nya. Lain pula para pertapa yang menganggap bahwa kehidupan ini dapat dikotak-katik dengan mantera-mantera yang tersusun. Bagi mereka yang membanggakan logika serta nalar menganggap bahwa kehidupan manusia bertumpu pada konsep strategi yang akurat. Apalagi bagi yang ahli di bidang black magic, mereka merasa dapat menentukan apa saja yang mereka kehendaki dengan tipuan yang tak urung selalu minta bantuan dengan sesuatu.

Maka himmah juga dapat dipilah menjadi dua bagian; pertama himmah kecil (shughro) dan kedua himmah besar (kubro).
1 . Himmah shughro ialah cenderung hati pada yang dicita dan dicinta.
2 . Himmah qubro berhubungan (ittishol) hati pada Q dengan tiada berpisah (infisol).

Dalam masalah ini, jika tidak ada irodat Q yang mengawali perbuatan seorang hamba, niscaya tidak bermanfaat semua konsep dan usaha untuk meraih cita dan cinta. Maka untuk lebih memperjelas permasalahan disini, tentu tak lepas dari tadbir (konsep). Bagaimana mungkin dapat terealisasi sebuah konsep dan strategi yang dapat membawa suatu perubahan dalam usaha, sementara himmah yang menjadi motivasi dalam menyusun konsep dan strategi tak berfungsi memisahkan antara perjuangan dengan takdir. (Apapun bentuk ragam konsep dan strategi tak akan mungkin merubah ketetapan takdir yang azali, konsep dan strategi hanyalah sebuah manifestasi perjuangan yang akan berjalan sesuai dengan irama taqdir)
Jika telah mengetahui masalah ini apakah masih berkeyakinan bahwa tadbir dan himmah mampu menyingkap tirai takdir yang telah Q pancangkan menjadi tiang kehidupan hamba-Nya?

“Sesungguhnya tiap orang diantara kamu dikumpulkan pembentukannya (kejadiannya) di dalam rahim ibunya dalam empat puluh hari berupa nutfah (sperma), kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, lalu menjadi sekerat daging selama itu juga. Setelah itu diutus kepadanya Malaikat, maka ia meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan (ditetapkan) dengan empat perkara: ditentukan rizkinya, ajalnya (umur), amalnya (pekerjaan) dan ditentukan pula ia celaka atau bahagia”. (HR. Bukhari)

Kehidupan manusia pada dasarnya telah ditetapkan dalam alur skenario Q. Maka bila ada orang yang mempunyai cita-cita, tetapi cita-cita itu tidak sesuai dengan ketetapan-Nya, maka apa yang dicitakannya tak akan mungkin sampai dan tercapai, walau dengan konsep strategi yang baik sekalipun. Lain pula, bila cita-citanya sesuai dengan ketetapan yang ada pada takdir ilahi tentu saja akan dapat digapai. Namun harus dimengerti bahwa tercapainya cita-cita tersebut bukan berarti karena hasil dari usaha dan ikhtiarnya, melainkan semata-mata karena ketetapan Q yang telah tertulis pada buku skenario hidupnya.


“Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. Al-Hadiid Ayat 22 dan 23)
»»  READMORE...

TAKDIR DAN TADBIR

Mendahulukan segala cita-cita, tak dapat menembus tirai takdir.
Istirahatkan jiwamu dari kerisauan mengatur kebutuhan karena sesuatu yang sudah dijamin dan diselesaikan oleh selainmu, tak usah kau sibuk memikirkannya.

ISTIRAHATNYA hati dari berbagai keinginan tak lalu diterjemahkan sebagai keharusan berhenti dari usaha dan ikhtiar. Tetaplah dengan berusaha dan berikhtiar, namun penetapan atas perbuatan itu harus didahului keyakinan bahwa semuanya tidak akan dapat menguak tirai takdir Allah. Ketentuan Allah sungguh tak akan bergeser sedikit pun dalam ruang dan waktu oleh sebab perbuatan manusia, doa atau apapun bentuknya yang datang kepada-Nya. Semuanya telah ditetapkan, tercantum pada buku skenario hidup makhluk yang ditulis oleh Allah pada zaman azali (terdahulu), tersimpan di Lauhul Mahfuz.


Itulah takdir, ketentuan dan ketetapan Allah. Ia, takdir itu meliputi seluruh peristiwa kehidupan makhluk. Mukjizat yang keluar dari para Nabi, karamah yang berhamburan dari para waliyullah, dan ma’unah (keistimewaan) yang mencuat dari orang-orang beriman yang menerima taburan rahim-Nya adalah ketetapan Allah. Semua peristiwa yang luar biasa dan juga yang tidak luar biasa, tak satu pun yang mampu menyingkap takdir Allah, juga tak akan ada yang sanggup bahkan hanya untuk sekedar bergeser keluar dari takdir-Nya.


"Sesungguhnya setiap orang di antara kamu dikumpulkan pembentukannya (kejadiannya) di dalam rahim ibunya dalam empat puluh hari berupa nutfah (sperma), kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, lalu menjadi sekerat daging selama itu juga. Setelah itu diutus kepadanya Malaikat, maka ia meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan (ditetapkan) dengan empat perkara: ditentukan rizekinya, ajalnya (umur), amalnya (pekerjaan) dan ditentukan pula ia celaka atau bahagia." (HR. Bukhari)


Himmah Dalam Takdir
Takdir, ketetapan Allah itu, adalah rahasia Allah. Untuk memahami lebih jauh tentang takdir, manusia harus mengetahui terlebih dahulu dengan apa yang disebut sebagai himmah, tekad yang meliputi ruang hati manusia. Himmah merupakan hentakan kehendak nafsu (baca: jiwa) yang dapat merubah keinginan menjadi satu wujud dengan izin-Nya. Kaum sufi memahami himmah sebagai persepsi martabat orang yang melakukan himmah. Misalnya, para waliyullah kuat keyakinannya; orang yang bertapa kuat nafsunya; para ahli dunia (materialis) cerdik dalam kejahatannya; dan penyihir lihai tipu dayanya.


Himmah dapat dipilah menjadi dua bagian, yaitu kecil (shughra) dan besar (kubra). Himmah kecil adalah kecenderungan hati pada yang dicita-citakan dan dicinta. Himmah besar adalah terhubungnya hati dengan Allah tanpa ada jarak dan pemisah (infishal).


Bila tak ada iradat (kehendak) Allah yang mengawali perbuatan seorang hamba, niscaya tak bermanfaat semua konsep dan usaha untuk meraih cita-cita dan cinta. Himmah yang mengalir, karena itu menjadi konsep strategi hidup manusia dan merupakan wujud takdir Allah yang dapat membawa faedah pada perubahan usaha dan ikhtiar.


Jika cita-cita, harapan, dan keinginan manusia tidak sesuai dengan kehendak Allah, maka apa yang dicita-citakan, semua harapan dan keinginan manusia tak akan mungkin tercapai, kendati sudah melalui konsep strategi yang matang. Cita-cita yang sesuai dengan ketetapan yang ada pada takdir Allah, tentu saja cita-cita itu akan dapat digapai. Ingat dan mengertilah bahwa --jika pun cita-cita tercapai-- hal itu sama sekali bukan hasil dari usaha dan ikhtiar manusia yang bersangkutan, melainkan ketetapan Allah juga, yang sudah tertulis pada buku hidup setiap manusia.


"Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Kami jelaskan yang demikian itu supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan Allah kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (Al Hadiid: 22 & 23)


Keyakinan para aulia mengenai takdir, karena itu tak terpengaruh oleh sesuatu apapun karena mereka telah mengerti dan memahami, bahwa hakikat kehidupan yang terpampang di alam raya ini tak lepas dari alur ketetapan Allah. Keyakinan akan ketetapan Allah itulah, yang membedakan para aulia dengan para ahli syirik.


Para pertapa menganggap kehidupan di alam fana ini dapat diotak-atik, diubah-ubah, diatur-atur dengan rapal mantra. Mereka yang membanggakan logika dan nalar, selalu menganggap kehidupan makhluk (manusia) bertumpu pada konsep strategi akurat yang harus atau telah dirancang. Ahli ilmu sihir, menganggap semua kehidupan dapat ditentukan sesuai dengan kehendaknya.


Tenteram Dengan Takdir
Bukan sebuah perjuangan ringan bagi manusia dalam upaya menenteramkan jiwa dari kerisauan akibat berbagai persoalan hidup. Akan tetapi lebih tidak ringan lagi bagi manusia menghadapi hidup yang tidak pernah tenteram dari keinginan yang diatur oleh nafsunya. Setiap orang tentu membutuhkan sarana hidup di dunia, namun jangan serta merta kebutuhan akan sarana hidup itu merasuk ke dalam hati dan mempengaruhi jiwa seperti orang yang ketakutan kejadian esok hari dan yang akan datang.


Persoalan hidup akan membuat risau hati dan jiwa. Padahal pada hati dan jiwa yang dilumur kerisauan, setan akan mengambil tempat untuk merekayasa peristiwa yang akan datang. Karena itu, jangan pernah berpikir bahwa setiap pekerjaan dapat mendatangkan rezeki, atau merasa takut kebutuhan hidup tak tercukupi. Hadapkanlah segala harapan hanya kepada Allah. Karena hanya Dia yang menurunkan rezeki serta mengatur kebutuhan hidup. Usaha dan ikhtiar hanyalah tanda asbab-musabab (cause prima). "Barang siapa yang bertawakal diri kepada Allah maka Dia akan mencukupi keperluannya." (Ath-Thalaaq: 3)


Oleh karena itu, istirahatkan jiwa dari berbagai angan khayal. Caranya dengan bertawakal serta qana’ah. "Seandainya kamu semua bertawakal kepada Allah dan berserah diri sepenuhnya, maka kamu akan mendapat rezeki seperti rezekinya burung-burung di waktu pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan kembali serta dengan perut kenyang." (HR. Tirmidzi).


Kosongkan jiwa dari kecamuk konsep strategi usaha (tadbir) karena hanya Allah yang mengetahui dan menentukan aneka ragam kejadian yang lampau maupun yang akan datang. Maka itu jangan engkau melakukan tadbir walau sebesar zarrah sekalipun karena meninggalkan tadbir adalah ‘ubudiyah. Kata Sahal bin Abdullah ra:


"Tinggalkan olehmu tadbir dan ikhtiar, maka bahwasanya keduanya itu menganugerahkan keduanya pada kehidupan manusia."

Kata “keduanya menganugerahkan keduanya” adalah tadbir dan ikhtiar. Jika tak mampu mengelak dari tadbir dan ikhtiar, maka tadbirkan untuk tiada tadbir. Jangan pula berikhtiar sesuatu dari pekerjaan dan ikhtiarkan untuk tidak ikhtiar. Jangan berikhtiar di dalam ikhtiar kecuali bila telah arif.


Seorang yang menyandang martabat ‘arifin billah mengungkap kata, “Tadbirku, konsep-Nya. Ikhtiarku kehendak-Nya berikhtiar, diamku kehendak-Nya meninggalkan ikhtiar”. Itulah derajat yang sangat tinggi dan mulia bagi para waliyullah.

Karena itu ikhtiarlah jika berkehendak ikhtiar dan tinggalkan bila tidak menghendaki ikhtiar, sebab hakikatnya, tidak ada yang bergerak atau diam dalam ikhtiar, kecuali dengan izin Allah. Mawas diri dan menyadari martabat sebagai makhluk.


Orang yang berjalan menuju Allah, sangat baik bagi mereka untuk mengikuti arus ilmu yang mengalir dan bertemu di muara sejahtera. Jangan berambisi meraih yang Allah telah sempurnakan, yaitu rezeki di dalam dunia dan akhirat. Pahamilah tentang kemurahan Allah dalam memberikan rezeki kepada setiap makhluk-Nya.


Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam (dunia) binatang itu dan tempat penyimpanannya (akhirat). Semuanya telah tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuz). (Huud: 6)


Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. (Al Ankabut: 60).


Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (Az-Zumar: 52)


Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (Al Baqarah: 212)


Jangan juga menyia-siakan perintah dan larangan Allah yang telah dicontohkan Rasul-Nya. Sucikan hati dan akidah dari syirik jalli atau khafi dan berserah dirilah kepada-Nya pada sesuatu yang telah diakui. Berpegang teguh pada nilai-nilai dasar syariat Islam dan jangan menggugurkan taklif syara' (beban syariat Islam). Dengan kalimat lain, jangan meninggalkan tanggung jawab sebagai seorang muslim untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah ditetapkan Allah di dalam Al Quran, juga aturan-aturan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah yang tertera di dalam kitab hadis.


Giatkan dengan pengkajian serta pengamalan yang berkisar pada pembersihan jiwa dan hati dari berbagai karat aghyar dengan mengikuti tahapan bimbingan dari orang yang dianggap mengetahui tentang itu, seperti para masyayikh atau syekh mursyid, yaitu guru pembimbing ruhani yang disebut pula sebagai waratsatul anbiyaa (pewaris Nabi). "Takutkah kamu kepada Allah, di mana kamu berada dan susullah amal yang jelek dengan amal yang baik, pasti ia akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan manusia seiring budi pekerti yang bagus." (Al-Hadits).

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang." (Al Ahzab: 41 dan 42).

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah (dzikrullah) sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring." (Ali Imraan: 191).


"Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dan ingat (dzikir) nama Tuhannya, lalu dia (senantiasa) berhubungan." (Al A’laa: 14 dan 15).
Maka jika manusia bertalian di setiap sikap dan perbuatan pada dua arus ilmu itu, niscaya sejahtera bashirah meliputi hatinya. Kilap nur sariirah menerangi jiwanya , ke organ tubuh, lalu tenteram dan tenang.
»»  READMORE...